Tulisan kali ini adalah sebuah inspirasi saya ditengah-tengah mepetnya tugas karya tulis untuk Olymphiart2012, yang bertemakan “Penyakit Endemik”. Untuk tema ini, pilihan saya jatuh pada Penyakit Tuberculosis.

Tuberculosis (TB) adalah sebuah kesuksesan. Tuberculosis, dari sisi yang jarang dipandang, adalah cerminan pribadi sukses dalam proses maupun hasil. Ga percaya ? Buktinya, hingga saat ini sudah ada sekitar 8.8 juta jiwa terkena TB, dimana 1.1 juta jiwa meninggal meski negatif HIV, dan 0.35 juta jiwa meninggal dengan TB sekaligus HIV. Ya, TB dapat dibarengi oleh HIV juga. Meski begitu, insidensi (kasus baru) TB cukup menurun semenjak 2006. Penurunan itu dibarengi juga dengan peningkatan biaya penanggulangan TB dunia, dari “hanya” 3.5 miliar dolar Amerika pada 2006 hingga 4.4 mliar dolar amerika tahun ini, 2012. Dan kemungkinan berkembang juga besar, sekitar 0.6 miliar dolar amerika pengeluaran yang dapat bertambah. Sungguh jelas, TB adalah masalah yang nyata untuk manusia, dan TB adalah Superstar di kalangan penyakit-penyakit yang ada di dunia.

Terbersit sebuah pertanyaan, sebenarnya, apa sih rahasia sukses Tuberculosis ?
Jawabannya gampang,”totalitas dan tidak menyerah sampai akhir, push to the limit”, seakan seperti wejangan-wejangan training motivasi, begitu TB menjawabnya.

TB, seakan sebuah perusahaan dengan marketing yang baik, menyebar dengan cara yang paling mudah menjangkau semua “calon pelanggannya”. TB menyebar via udara dari batuk, bersin, dan nafas penderita yang telah terinfeksi TB. Jadi, bagi negara-negara endemik TB, hampir semua orang telah terinfeksi. Lantas, harusnya setiap orang di negara endemik terinfeksi dan memiliki gejala TB dong ?

Untuk hal ini, kita harus berterima kasih kepada Allah SWT yang telah memberikan kita tubuh maha sempurna. Kerja keras sebuah sistem tanpa balas jasa, “sang penjaga” bernama sistem imun yang didalangi dari molekul yang tak kasat mata seperti antibodi yang melawan antigen asing, makrofag yang tanpa pandang bulu menelan bulat-bulat ambisi dan jasmani bakteri, hingga bulu hidung dan sel-sel rambut (cilia) pada tengorokan kita. Dengan kekebalan laksana dewa, seharusnya TB bukanlah masalah bagi umat manusia. Namun faktanya, meski ada sistem kekebalan tubuh, 10% pasien yang terinfeksi langsung menjadi penderita TB.

Meski hanya 10% yang menderita langsung, bukan berarti kita dapat bersenang-senang. Tanpa kenal menyerah, TB terus menghantui, menunggu kelengahan dalam sunyi seraya terus berlindung dan memperkuat diri. Hingga datanglah sebuah kesempatan, yakni saat imunitas turun (immunosupressive patient), sempurna tanpa kesalahan, TB kan menginfeksi secara nyata dan menimbulkan gejala. Keringat dingin di malam hari, batuk bahkan hingga berdarah, nyeri dada, dan demam yang terjadi lebih dari 3 minggu adalah gejala-gejala utama.
Dalam penglihatan mikroskopik, saat TB berdormasi seperti tadi, ia tidak hanya diam dan tanpa tujuan. Aliran darah adalah dunia yang keras. Imunitas terus menghantui tanpa istirahat. Belum lagi pihak lain, radikal bebas yang selalu merusak siapapun, tubuh maupun zat asing yang tak terhankan oleh pelindung apapun. Maka apabila tetap bertahan dalam aliran darah tanpa perlindungan, maka dipastikan TB kan hilang dari peradaban.

Dalam kondisi kritis, meski dalam pengetahuan manusia sel itu tidak punya “otak”, namun entah kenapa sel TB mampu berpikir untuk beradaptasi. Sel yang berukuran mikrometer, yang menegur pemilik otak yang jauh lebih besar namun tak mampu efisien berpikir. TB mencari sebuah sel bernama makrofag. Makrofag seharusnya adalah salah satu polisi tubuh yang menelan dan menghancurkan zat asing. Dan para warga tubuh asing (WTA) harusnya menghindari makrofag dengan berbagai macam mekanismenya. Namun TB, membantah segala kemungkinan, mencari makrofag dengan gagah berani meski bukan untuk melawan. Saat telah bertemu, dengan sigap makrofag kan melakukan gerakan untuk memakan. Namun TB yang tak kalah sigap melakukan sebuah manuver pada reseptor/penerima pada membran sel markofag. Menempelkan reseptornya ke reseptor makrofag. Tak menghentikan gerakan memakan dari makrofag memang, namun apa yang terjadi setelah TB benar-benar dimakan ? ia bertahan dalam kungkungan makrofag. Ia terus hidup dan mekanisme penghancuran oleh makrofag yang biasanya mampu meluluhlantakkan berbagai macam banteri yang jauh lebih berbahaya kini seakan tak berdaya.

Dalam kungkungan, makrofag semakin gencar dan produktif. Ia ber-replikasi, memperbanyak diri dengan cara membelah sel sendiri. Terus bersiap dengan produktifitas tinggi. Dan karena telah berada dalam makrofag, TB tak perlu takut lagi dengan serangan radikal bebas dan imunitas dalam aliran darah, karena kini ia telah memiliki sebuah benteng yang tak terlihat, tak terkenali, aman dalam sunyi.

Suatu saat, ketika telah cukup menghasilkan banyak sel, TB kan keluar dan pecah hingga menginfeksi tak hanya paru-paru saja bahkan juga sumsum tulang belakang dan otak hingga menyebabkan kematian.

Jikalau begitu, maka kenapa tak dihambat saja reseptor TB atau reseptor makrofag ? hal ini telah dipikirkan oleh ilmuwan, mereka coba hambat beberapa reseptor yang telah diketahui seperti Complement Receptor (CR) dan mannose receptor (MR). Namun, apa yang terjadi ? TB tetap menemukan reseptor lain untuk tetap membentengi diri dengan makrofag. Semangatnya seakan pemuda yang ambisius, akalnya seakan cendekia yang bijaksana, dan totalitasnya seakan air terjun yang tak henti-hentinya.

Sungguh, pada sebuah makhluk yang maha kecil, tanpa otak, tanpa kesempurnaan sel seperti manusia, tanpa banyak fasilitas dan manfaat mampu menghasilkan kesuksesan dengan segala keterbatasan. Pramoedya A. Toer, Buya Hamka, M. Hatta dan banyak orang besar lainnya juga pernah dipenjara, dibuang dan diasingkan. Namun justru karya mereka tak terhenti. Beberapa bahkan bersinar namanya dari balik jeruji. Hingga saat ini, karya itu terus jadi kenangan manis yang tak hanya mereka yang mengingatnya, tetapi juga ratusan hingga ribuan jiwa hingga saat ini. Meninggalkan nama dan karya. Dan sesungguhnya, seorang dinilai dan diingat akan apa yang dikaryakannya. Dan berkarya, tak mengenal tempat, situasi, dan jabatan. Semua wajib berkarya dalam setiap hal yang kita bisa lakukan. Yang membedakan pemimpin dan penguasa adalah, pemimpin, saat iya memegang kekuasaan, ia berkarya. Saat ia tak lagi berkuasa, ia tetap berkarya. Namun penguasa hanya berkarya saat ia berkuasa.

Manusia, merupakan suatu struktur kompleks yang terdiri dari berbagai macam sistem regulasi maha sempurna, diciptakan dengan sebuah organ regulator bernama Hipotalamus. Mereka, ilmuwan dari barat sana bahkan menyebut hipotalamus sebagai master of gland. Namun, apakah pantas sebuah kelenjar seberat 0.5 g menyandang nama sedahsyat itu ?

Maka jawabannya ialah Pantas.

Hipotalamus terhubung dengan miliaran sel saraf yang ada di otak dengan triliyunan interaksi tiap harinya. Setiap rangsangan yang didapat, akan diterima oleh sel saraf sensorik, kemudian di transmisikan menuju otak, dan dalam beberapa hal penting, rangsangan itu akan sampai menuju hipotalamus. Ia ibarat pemimpin yang peka. Kenapa ? karena, pertama ia selalu menerima setiap rangsangan yang ada tanpa pandang bulu, dengan ikhlas dan profesional, tidak diskriminatif. Lalu rangsangan itu, ia telaah, dan ia kemudian segera bertindak berdasarkan keperluan.

Misalkan, saat seorang manusia dilanda stres, maka sel saraf sensorik akan menyampaikannya, lalu diterimalah oleh hipotalamus, kemudian ia mengeluarkan suatu hormon releasing, yang berfungsi layaknya surat perintah, media berkomunikasi dengan struktur dibawahnya, Pituitari, kemudian diterima oleh pituitari, yang menyebabkan pituitari mengeluarkan trophic hormon, yang juga ibarat surat perintah atau media komunikasi bagi struktur yang berada dibawah naungannya, yakni kelenjar endokrin, dalam hal ini kelenjar adrenal, hingga akhirnya adrenal menerimanya, dan kemudian segera bertindak, mengeluarkan kortisol sebagai rangsangan terhadap stres, dan segera melaksanakan fungsinya.

Ternyata, memang, birokrasi bahkan di tubuh manusia itu sendiri panjang. Namun bedanya, meski birokrasi ini panjang tapi tidak berbelit-belit, dan seluruh fungsi yang ada bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa ada hambatan dan halangan disana-sini. Ya, tubuh adalah contoh paling sempurna akan gambaran sebuah negara super ideal, setelah Negara Madinah yang dipimpin rasulullah dan khulafaurasyidin.

Dan ia bekerja efektif, setiap proses yang terjadi berlangsung hanya dalam hitungan detik. Ia fokus, tanpa membuang sedikitpun waktu dengan totalitas yang nyata tanpa pandang bulu. Dan ia bekerja dengan profesional, tak peduli apakah kejadian ini akan merusak atau menguntungkan, ketika ada rangsangan stres maka Hipotalamus akan mengeluarkan CRH, pituitari akan mengeluarkan ACTH dan akhirnya kelenjar adrenal akan mengeluarkan kortisol. Sebuah konsistensi yang mengagumkan, terjadi tanpa henti, dan selalu siap bila dibutuhkan.

Ketika terjadi kerusakan sekalipun, dikarenakan sistem ini bekerja dengan sistematis dan benar serta konsisten, maka akan lebih mudah menemukan masalahnya. Saat ada tumor di adrenal, maka kortisol akan meningkat, namun CRH dan ACTH akan menurun karena pengaruh umpan balik negatif, dimana hormon endokrin yang berlebihan merangsang hormon releasing dan hormon trophic berhenti dikeluarkan, suatu mekanisme yang juga mengagumkan. Karena setiap hal yang berlebihan itu tidak baik, maka, tubuh dengan kesadarannya menurunkan kuantitas pemicu penggeluaran hormon itu. Nah, dengan ini, kita dapat mengetahui bahwa kesalahan terletak pada adrenal, bukan hipotalamus ataupun pituitari. Berbeda halnya dengan birokrasi negara kita yang masih buruk, saat suatu regulasi tidak berjalan sebagaimaa mestinya, maka akan sangat sulit menemukan akar permasalahannya karena akan ada banyak sekali faktor yang ada.

Ketika dana yang turun pada masyarakat dalam sebuah kebijakan pemerintah ternyata kurang, maka masalahnya akan lebih sulit dilacak. Entah itu dikarenakan struktur terendah ataupun yang struktur vertikal lain yang tidak jujur atau korupsi, ataukah karena transportasi dananya yang bermasalah, atau karena agen pentransmisi dana yang salah menghitung, hingga kesalahan-kesalahan kecil seperti agen pentransmisi dana yang salah alamat.

Sungguh, sangat jarang tubuh mengalami gangguan seperti itu, berbeda dengan pemilik tubuhnya. Tubuh akan terus jujur dan berterus terang apa adanya. Sel kelenjar adrenal tak akan menyimpan hormon kortisol untuk dirinya saja, darah tidak akan sering berhenti hingga transportasi hormon bermasalah, hormon tidak akan salah alamat hingga berikatan dengan reseptor yang bukan tempatnya, dan sel hipotalamus, pituitari, ataupun adrenal tidak mungkin salah hitung, atau kurang mengirimkan kuantitas hormon yang ada, mereka akan mengirimkannya sesuai kebutuhan tanpa mengurangi sedikitpun.

Sungguh, sebenarnya kesempurnaan itu ada dalam diri kita sendiri, namun yang tidak sempurna adalah pemikiran, akhlaq, persepsi dari manusia itu sendiri.

sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” QS 95 : 4

Pendidikan kedokteran indonesia saat ini, khususnya, dan universitas2 di indonesia, pada umumnya, telah terintegrasi menuju tingkatan yang lebih baik, dikenal dengan perguruan tinggi tingkat dunia. Segala macamnya telah dipersiapkan, fasilitas memadai, infrastruktur modern seperti laboratorium, jnetworking, perpustakaan, sarana-sarana pembelajaran, dan juga, tenaga pengajar serta tutor yang berkualitas. Kemudian, bumbu terakhir dari semua persiapan itu ialah, mahasiswa internasional, yang entah kenapa, mayoritas, bahkan seluruhnya berasal dari bangsa asing.

Saya sungguh tidak mengerti, apakah masy. Indonesia belum sanggup menyandangnya, tapi, inilah fakta lapangan yang terdapat dalam sistem pendidikan kedokteran di beberapa universitas negeri di Indonesia.

Menurut RUU Pendidikan pasal 48 tentang pendanaan, “Fakultas kedokteran dan/atau Rumah Sakit
Pendidikan wajib memungut lebih besar biaya pendidikan Mahasiswa Kedokteran
warga negara asing dibandingkan dengan warga negara Indonesia.” Nah, ternyata ada maksud dibalik kenapa warga negara asing menjadi mayoritas mahasiswa. Biaya. Memang, mahasiswa asing dapat menjadi salah satu sumber biaya untuk pengembangan, pembangunan, bahkan juga untuk subsidi silang bagi saudara-saudari kita mahasiswa kurang mampu. Namun, benarkah ini semua adalah keuntungan bagi kita ?

Pasal 49, RUU Pendidikan Kedokteran perihal pendanaan,

(1) Biaya investasi untuk fakultas kedokteran menjadi
tanggung jawab Menteri.

(2) Biaya investasi untuk Rumah Sakit Pendidikan
menjadi tanggung jawab Menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang
kesehatan.

(3) Biaya investasi untuk rumah sakit yang ditetapkan
sebagai Rumah Sakit Pendidikan menjadi tanggung jawab Menteri yang tugas dan
tanggung jawab di bidang kesehatan terhadap rumah sakit tersebut.

Berarti, pembiayaan untuk investasi fakultas kedokteran, yang tidak semuanya warga negara Indonesia, adalah dari uang milik rakyat Indonesia. Nah, jadi, apakah sepenuhnya ini adalah keuntungan bagi masy. Indonesia ? bagi pihak civitas akademika, penyelenggara pendidikan, mungkin. Biaya besar, didapat dalam waktu singkat, maka tak pelaklah kita sebut ini sebuah keuntungan. Namun, bagi pemegang saham terbesar dari sebuah “perusahaan” bernama fakultas Kedokteran negeri, yakni yang terhormat “Rakyat Indonesia”, ini adalah sebuah bentuk kerugian. Karena, sang pemegang saham, tak sepenuhnya dapat mencicipi modal yang ditanamnya. Anak-anaknya tak bisa jadi dokter, karena bangku-bangku itu telah terisi oleh mahasiswa-mahasiswa asing yang “membayar lebih mahal”, katanya.

Jikalau ada subsidi silang, maka rakyat-rakyat kurang mampu, yang haknya ada pada uang negaralah yang membiayai saudara-saudari kita, mahasiswa asing yang menuntut ilmu di tanah air tercinta, Indonesia.

Mahasiswa asing memang dipungut biaya lebih mahal. Wacana mengatakan, hal ini sekaligus untuk meringankan biaya warga negara Indonesia. Namun faktanya, biaya pendidikan tetaplah mahal. Untuk uang semester, contohnya di Universitas Padjadjaran yang telah membuka kelas pengantar berbahasa inggris (KPBI) yang berisi teman-teman warga negara asing, sebesar Rp 2.000.000,00 (dua juta rupiah). Belum uang pangkalnya, yang dapat berbeda tergantung ujian masuknya, untuk lulusan SNMPTN, sekitar Rp 4.000.000,00 (empat juta rupiah) sedang untuk Ujian mandiri Unpad, SMUP minimal Rp 175.000.000,00 (seratus tujuh puluh lima juta rupiah). Maka, pertanyaan akan muncul dalam benak kita, dimanakah keringanan biaya itu ? kenapa warga negara Indonesia sendiri tetap harus mengeluarkan biaya hingga seratus tujuh puluh lima juta rupiah ?

Fakta : pendidikan tetap mahal sekalipun ada mahasiswa asing yang biaya pendidikannya besar.

Bukannya Indonesia harus tertutup dengan mahasiswa asing, namun tetap, ada prioritas tersendiri yang harus dipikirkan. Saat ini dokter di Indonesia hanya ada 40 ribu orang, dengan perbandingan antara jumlah dokter dengan jumlah populasi di Indonesia ialah 1 : 3400 orang(antaranews 15 juni 2011). Jadi, satu orang dokter harus mampu menghadapi kurang lebih 3400 orang, dengan tingkat keterjangkitan penyakit yang tinggi di Indonesia, belum lagi angka kelahiran yang tinggi serta, 3400 orang belum tentu akurat karena lemahnya sistem pencatatan data di Indonesia. Inipun, jika persebaran dokter yang ada itu merata, namun masalahnya, kebanyakan dokter “Alergi” desa.

Di sisi lain, sekitar 15 ribu calon dokter di Indonesia tidak bisa praktik lantaran terkendala masalah Ujian kompetensi Dokter Indonesia (UKDI).

Jelas sekali, Indonesia Butuh dokter. Dokter yang setia dan rela mengabdi. Dokter yang tak takut bekerja dalam fasilitas minim sekalipun dan tak memetingkan kepentingan pribadi. Siapa lagi mereka jikalau bukan dokter lokal warga Indonesia sendiri. Namun kini, dokter lokal, calon-mahasiswa kedokteran-lokal, tak bisa menempati bangku-bangku pendidikan kedokteran karena bangku-bangku itu telah diduduki warga negara asing.

“Bagaimanapun banyaknya mahasiswa asing, mahasiswa lokal kan tetap mendominasi.” Kalimat ini saya akui sepenuhnya benar. Perbandingan mahasiswa asing dan lokal di fakultas kedokteran Universitas Padjadjaran angkatan 2010 sekitar 120 : 217. Namun, apakah 217 orang warga negara Indoesia tersebut mampu menyelesaikan masalah kekurang dokter, ketidakmerataan pelayanan kesehatan, di daerah Jawa Barat secara khusus, dan Indonesia secara Umum ?

“lulusan fakultas Kedokteran di Jawa Barat banyak yg enggan mengabdi di daerah terpencil. Pendaftar dokter pegawai tidak tetap yg biasa ditempatkan di jabar sejak 2005 selalu di bawah kuota. Tahun 2010, kuota 100 org, hanya 81 org yang mendaftar.dokter di Jabar ada 4000-5000 orang. Jumlahnya sudah cukup tapi tidak menyebar rata” (tempo Interaktif 28 sept 2010)

Kenapa fakta bisa begitu perih seperti ini ?

Pertama, motivasi yang sesat karena paradigma yang tidak tepat. Dokter-dokter indonesia saat ini terkenal akan beberapa macam karakteristiknya. Kaya. Makmur. Sentosa. Dan sebagainya.

Hal-hal ini membantu membentuk paradigma masyarakat, bahwa profesi kedokteran ialah profesi menjanjikan, yang hanya periksa sana-sini sedikit, meresepkan beberapa jenis tablet, rujuk sana-sini, maka rupiah akan datang sendiri. Maka, melencenglah niatan mulia remajaremaja polos itu. Maka, orang tua yang memaksa anaknya untuk jadi dokter telah jadi perihal biasa. Maka jadilah dokter-dokter niatannya bukan kepentingan pasien, namun kepentingan pribadi. Memilih pendidikan lanjutan daripada mengabdi. Hingga terciptalah suatu wabah pada mereka, yakni, cinta kota allergi desa.

Kedua, pendidikan tidak merata. Dari seluruh mahasiswa yang lulus ujian masuk kedokteran, kebanyakan adalah mereka yang mampu dan sejahtera, yang mengikuti tambahan pelajaran sana-sini. Dari segi kemampuan, intelegensi, anak desa tak kalah dari mereka, namun, anak desa tak mendapatkan jenis pendidikan yang sama. Selain itu, yang berbeda ialah tujuan mereka. Kebanyakan, anak desa yang melihat buruknya pelayanan kesehatan di desanya bisa termotivasi menjadi  dokter yang bertujuan mengabdi.  Namun, banyak dari mereka gagal bahkan untuk masuk ke fakultas kedokteran. Sedang mereka yang lulus, masih minim dengan tujuan untuk mengabdi. Adapun alur tujuannya ialah : dokter umum-dokter spesialis-praktek di kota.

Dan akhirnya, saat tujuan itu tercapai, tanpa sadar dokter telah menciptakan suatu siklus, dimana akan terbentuk paradigma lagi, dan orang-orang akan memasukkan anaknya ke fakultas kedokteran, dan melahirkan lagi dokter-dokter yang bisa saja melanjutkan siklus itu lagi.

Solusi ? masalah sistem pendidikan kedokteran, meski bisa dipicu oleh globalisasi-yang ibarat pedang bermata 2, memberi manfaat dengan jaringan informasi terbaru, teknologi termutakhirnya, juga memberi kerugian- namun sebenarnya ialah masalah dasar yang meracuni tingkatan-tingkatan diatasnya. Masalah dasar yang dapat bermula dari paradigma, seperti halnya bagaimana pardigma masyarakat akan dokter terbentuk denga sesatnya karena karakteristik dokter itu sendiri. Maka dari itu, untuk mereka yang telah jadi dokter, ubahlah sikap-sikap pembentuk paradigma itu, bersikap sederhanalah, dan buang eksklusifitas itu. Dokter ialah abdi masyarakat, maka amatlah janggal apabila ia membatasi dirinya dengan masyarakat. Dan untuk calon-calon dokter yang sedang menempuh pendidikan, biasakanlah bersikap sederhana. Pendidikan yang berat dan lama tak pernah memberi kita hak untuk bersifat eksklusif dan berbeda. Kita sama halnya dengan mereka, manusia juga. Masyarakat juga, dan rakyat juga. Jadi merakyatlah. Kita ubah paradigma itu, dan berikan contoh dokter yang benar. Berikanlah inspirasi dan motivasi yang benar bagi mereka, remaja-remaja calon penyembuh bangsa di 10-20 tahun mendatang.

Kemudian, bagi calon-calon dokter, maupun dokter yang salah niatan awalnya, ubahlah niatan itu saat ini juga. Sungguh belum terlambat untuk mengerti. Bertindaklah dengan hati, jangan terbawa nafsu duniawi. Jangan sampai kita menyebuhkan jasmani tapi melukai rohani dengan tarif-tarif setinggi langit yang kita minta pada mereka, pasien kita yang polos hati.

Dan bagi calon-calon dokter maupun dokter yang awalnya masuk dengan niatan mulia, tetap istiqomah, terus berjuang, terus yakin, walau dalam fasilitas sekurang apapun, kita akan tetap bisa menyembuhkan mereka.

Lalu, pendidikan 12 tahun semenjak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas harus merata di setaip daerah. Jika bisa, jangan ada pelajaran-pelajaran tambahan atau les-les dan semacamnya diperlukan untuk pendidikan. Salah satu penghalang pemerataan pendidikan, ialah sikap tenaga pendidik yang terkadang cenderung diskriminatif, bahkan seringkali KKN. Perketat aturan, tindak pelanggaran dengan tegas, berikan sarana untuk siswa mengadu dan terus evaluasi tiap kebijakan dan tindakan.

Selain itu, rata-rata manusia berhati nurani. Banyak yang ingin mengabdi. Namun tak semua yang berani. Idealisme-idealisme itu terbentur oleh kerasnya realita kehidupan masa kini. Permudah jalan untuk mengabdi. Pemerintah daerah dapat berperan dengan cara  :

Majukan RS daerah dengan SDM berkualitas di tambah dengan sarana prasarana memadai

Promosikan pelayanan kesehatan hingga pelosok-pelosok desa, rangkul mereka, dan fasilitasi.

Jemput Bola. Bagi daerah yang belum begitu maju dalam bidang kesehatan, berikan beasiswa bagi putra-putri daerah yang sedang atau akan kuliah fakultas kedokteran dengan kontrak untuk mengabdi

Untuk pemerintah pusat, fasilitasi pemerintah daerah. Berikan guideline2, dasar2, serta pedoman2 serta strategi2 peningkatan pelayanan kesehatan. Berikan stimulus serta dorongan bagi daerah untuk mampu bergerak dengan cepat dan lancar. Bantu daerah2 tertinggal, dan tindak tega setiap pelanggaran.

Dan akhirnya, media, jangan hanya menyorot keburukan/kesalahan yang ada pada dokter. Sorot contoh2 dokter teladan, ceritakan kisah2 mereka, jika perlu filmkan seperti House, Team Medical Dragon, karena film, terbukti bisa jadi sumber motivasi remaja2 penuh mimpi.

Kemudian, bukanlah berarti Indonesia tidak menerima mahasiswa asing, namun dimohon, tetap memikirkan kesejahteraan rakyat Indonesia, bahwa kita adalah “Raksasa” yang sedang terjatuh dan seakan tak berdaya untuk bangun, hingga kini dapat lebih rendah dari yang lain. Adapun, sungguh globalisasi memberi dampak besar bagi kemajuan ilmu pengetahuan, namun tetap harus di analisa dan tetap berpegang pada prinsip-prinsip kita, jangan mampu tergoyang kesana-sini karena pengaruh pesona globalisasi.

Dan Sungguh, tak pernah ada salah mahasiswa asing sedikitpun, karena semua berniat baik, hanya untuk ilmu pengetahuan. Bukankah begitu, teman ?

(Aj)

 

Mengapa kita harus bercerai, disaat mereka padu dalam usahanya,

Apa kita telah terlupa, betapa kerasnya mereka menyerang kita,

Jadi, mengapa bukan setiap butir pelur itu, kita arahkan kepada mereka,

Bukan kepada saudara kita,

 

 

Sungguh, “Ia” tak pernah membedak-bedakan hambanya,

Kita semua sama di hadapanNya,

Maka apa guna perbedaan itu, hingga tertulis dengan tinta merah bertahun-tahun lamanya,

Maka apa guna kemenangan itu, apabila berasal atas bangkai-bangkai saudara kita,

Maka apa kita akan tenang, saat keluarga membunuh sesamanya,

Sedang mereka, sibuk tertawa dan membangun di atas tanah kita,

Diatas bekas rumah kita, yang dengan hukum mana, tiba-tiba jadi tanah mereka,

Diatas bekas mesjid-mesjid kita, dalam kedamaian seakan surga katanya,

Sedang saudara kita, remaja dekade pertama, sibuk memanggul senapan tuanya,

Demi wanita dan orang tua, meski tak pernah sedikitpun damai di hatinya,

Karena ribuan peluru bisa saja datang mengganggu tidur mereka,

Karena ratusan tentara bisa saja datang dalam lelah mereka,

Karena puluhan mobil besi dapat saja meluluhlantakan dalam ketenangan mereka,

 

 

Sementara kita memikirkan dunia kita,

Sibuk dengan lembaran-lembaran tak berguna,

Sungguh apa kita hanya membiarkan saat saudara kita hanya tinggal kepala ?

“Mereka bukan dari negara kita”

Batasan wilayah, apakah ini pembatas kita berbuat pada sesama ?

Sesungguhnya, dihadapanNya, kita bukan Indonesia, Malaysia, Saudi Arabia, Mesir, Iran, Irak, Kuwait dan sebagainya,

Kita bukan hamas, fatah, sunni, syi’ah, NU, Muhammadiyah, dan lainnya,

Tapi kita muslim sebagaimana adanya,

Sama tanpa ada ketidakadilan dalam penghakimanNya,

Maka mengapa sekarang, kita tidak padu dalam nama AgamaNya ?

Membela saudara kita tanpa peduli dari mana asalnya,

Asalkan la ilahaillallah muhammadarrasulullah terucap dari lisannya,

Melawan mereka tanpa takut maut mendatangi kita,

Karna, sungguh, surga yang sebenar-benarnya surga

Adalah berkah bagi para syuhada. Kita, InsyaAllah.

Boven Digoel adalah suatu kawasan di Papua. Sempat terkenal sebagai ‘neraka dunia’ sejak pemerintahan Hindia Belanda ketika pengasingan sedang menjadi tren yang berkembang saat itu. Boven Digoel bahkan mampu membungkam aktivis-aktivis ‘nakal’ sekaliber Marco Kartodikromo.
Tak seperti Gulag, di Uni Soviet. Yang bermandikan sinar-sinar terang lampu sorot di malam hari, tembok-tembok tebal tinggi menjulang, atau sipir-sipir yang berkeliaran siang malam dengan senapan siap tembak, yang mungkin, tak pernah belajar tentang humaniora dan etika. Di Boven Digoel ada rumah ibadat, warung-warung, ‘rumah sakit’, bahkan bioskop. Adapun, gunung, bukit, lembah, rimba, dan paya-paya kaya nyamuk serta kehampaan dan kebosananlah yang cukup menebarkan horor dan menjadi momok di Boven Digoel. Setiap orang berusaha tetap pada standar kewarasan agar tak jatuh jadi jadi gila.
Dan salah satu dari mereka yang lolos dari kegilaan ini adalah dr. John Manangsang. Tidak cukup sampai disitu, dengan kedua tangannya, ia bahkan mampu menyelamatkan dan menginspirasi mereka yang masih tetap setia dalam lingkaran bernama kemanusiaan.
Mungkin, kita pernah mendengar Boven Digoel sebelumnya, juga telah didatangi figur ternama seperti dr. Tjipto Mangunkusumo. Namun, kondisi saat itu dan dan saat ini berbeda. Indonesia yang sekarang sedang mencapai puncak perekonomian yang bahkan aparatus Orde Baru dengan lantang menyebutnya “Tahun-tahun Keemasan Indonesia.” Benarkah begitu ?
Dr John aDalah sesosok pribadi ‘lugu’ lulusan Fakultas Kedokteran tertua di Indonesia, yaitu Universitas Indonesia, merupakan seorang pembelajar yang kerap berusaha diatas rata-rata dibanding rekan-rekannya yang lain. Dengan ketekunan tingkat dewa, ia semestinya bisa mendapagt tempat praktek yang layak, dan memang, RS Tjipto Mangunkusumo telah menerimanya. Namun, ia memilih untuk kembali ke Boven Digoel, ‘neraka dunia’ dimana dr. Tjipto pernah diasingkan karena keterlibatannya dalam pergerakan Indonesia.
Dengan keluguannya, ia berkeyakinan, “dokter adalah mereka yang disumpah dan bersumpah untuk membaktikan hidup mereka untuk kepentingan kemanusiaan, menjalankan tugas dengan cara terhormat, bersusila sesuai martabat dan pekerjaan mereka, dan setelah itu dokter melanglang buana menuju pelosok bumi pertiwi ini hingga pada tempat yang tak pernah terbayang oleh manusia sekalipun.
Kesedehanaan, kemuliaan, kehangatan, kesetiaan serta keberanian dr. John mengambil tindakan-tindakan medis selama 15 di Boven Digoel menjadi teror bagi siapapun yang memihak kemanusiaan.
Dalam keterbatasan, dan isolasi yang cukup tangguh, sayangnya penyakit, kelainan dan kecelakaan tetap saja terjadi di Boven Digoel. Adalah sosok dr. Johnlah yang mempertanggungjawabkan semua itu. Dalam suatu ketika, adakalanya ia berani ambil resiko tak lazim ketika membedah pasien. Membedah perut seorang wanita untuk operasi caesar misalnya.
Saat itu, memang peralatan di puskesmas sedang minim. Kasa steril tidak punya dan harus minta pada bagian kesusteran. Sterilisator memang sudah dibawa ke perumtel untuk di panaskan, namun listrik perumtel tidak memadai, hingga akhirnya sterilisator direbus dalam kukusan di belakang puskesmas. Ketika operasi akan dilakukan, tiba-tiba seorang suster berteriak, “pisau operasi habis dan tak satupun yang tersisa untuk operasi ini.”
Karena tidak boleh menunda hanya karena pisau, spontan dr. John merogoh sakunya dan mengeluarkan uang seratus rupiah, “tolong belikan silet Tiger.”
Dalam suatu operasi yang lain, pada operasi atresia ani tau lahir tanpa anus, ia dihadapkan pada kondisi fasilitas yang minimum. Berbekal secuil informasi dari rekan-rekannya di kota, ia menolak untuk merujuk karena keterbatasan ekonomi pasien dan nekat melakukan sebuah operasi buta. Bermodal sepotong patahan silet yang berbentuk segitiga yang dijepit pada ujung klem, sebuah pencongkel gigi, sebuah trokar besi tajam penembus otot, sebatang sonde pengukur dalamnya dan posisi kandungan, sebuah spekulum hidung, sebuah tabung spuit besi penyemprot gliserin ke dalam lubang anus, dan sebuah gunting.
Pada kesempatan operasi yang lain, pahat yang biasa dikenal dalam dunia pertukangan pun hadir sebagai “tamu kehormatan” di ruangan operasi dr. John. Pahat dan palu digunakan untuk pasiennya yang mengalami artodoisis atau kekakuan sendi. Alat ini dipakai untuk memahat sendi lutut pasien. Ide itu muncul setelah operasi berjalan dan dr. John mulai putus asa. Awalnya obeng, pahat, dan martil itu direbus lalu disirami alkohol 70% setelah itu ujungnya dibakar.
Lantas, muncul suatu tanda tanya dalam benak kita. Bukankah tindakan dr. John itu melanggar etika kedokteran ? bisa dijerat pasal malpraktik ?
“Bisa saja. Tergantung siapa yang menilai dan dari sudut pandang apa. tetapi situasional ditimbang-timbang antara hidup atau mati atau malpraktik.”
Nikodemus Tekma, mantri Puskesmas Tanah Merah, mengamini tindakan dr. John, “Saya ikut dalam operasi waktu ada polisi kena tembak sampai sumsum tulangnya terlepas jauh. Dokter John bisa merampungkan operasi dan menjahit dengan alat benang jahitan pun jadi.”
Kondisi Boven Digoel yang terpencil telah membagkitkan keberanianya untuk melakukan tindakan-tindakan medis yang terbilang nekat. Tentu saja segala tindakan itu dilakukan atas nama upaya pengobatan dan penyelamatan jiwa pasien.
Lantas, apakah tidak takut kalau-kalau pasiennya meninggal ?
Dengan tenang sosok lugu itu menjawab, “Sebelum melakukan operasi, saya jelaskan kepada pasien dan keluarganya. Semua resiko saat pembiusan, saat operasi, sampai kemungkinan efek samping setelah operasi. Setelah setuju, barulah saya melakukan operasi. Umumnya dalam keadaan darurat yang saya tawarkan hanya hidup atau mati. Sudah itu.”
Kiprah pengabdian dr. John merupakan pengabdian profesi yang terjepit oleh kelalaian negara dalam melayani kebutuhan medis di daerah terpencil. Apa yag dilakukan dr. John adalah improvisasi. Bandingkan dengan rumah sakit modern yang mentereng dimana setiap pasien yang dioperasi dimonitor detak jantungnya. Namun, mana mungkin itu bisa dilakukan di puskesmas terpencil yang untuk pengadaan stetoskop saja masih kesusahan.
“Kami dididik melakukan operasi dengan tim dokter. Namun, di pedalaman terpencil sana Cuma saya dokternya. Pada kasus yang dibius umum, tetap saya harus kontrol fungsi jantung dan paru-parunya. Saya suruh mantri mengenakan stetoskop ke dada pasien. Mantri itu menirukan bunyi detak jantung pasien saat saya sedang operasi, apakah detak jantung pasien bertabah cepat atau melambat. Dengan memantau suara mantri, saya jadi tahu kondisi pasien memerlukan apa.
Memang, kita mungkin tidak bisa sepenuhnya menyalahkan negara. Oleh karena itu, setiap calon dokter tidak boleh terbiasa bermanja-manja. Ia harus bisa bertindak dalam setiap situasi dan keadaan yang ada. Terus-menerus belajar tanpa henti serta terus-menerus berlatih adalah cara kita untuk berpartisipasi dan menjawab kepercayaan setiap pasien yang datang. Bersungguh-sungguh, rela, dan ikhlas harus selalu kita tanamkan.
Dr. John hanyalah satu dari sekian banyak contoh “the real doctor” yang ada. Dan tidak usah mencari contoh jauh-jauh. Apakah semua dari kita mengetahui, bahwa ternyata di kawasan Jatinangor saja, yang terdapat salah satu Fakultas Kedokteran paling ternama di Indonesia, masih terdapat desa yang bahkan tidak dijangkau dokter ? ibarat seekor lebah yang kesulitan mencari madu di sekitar kebun bunga. Mungkin saja lebah ini bingung, kenapa bunga itu tak lagi semulia dulu. Kenapa bunga itu tak lagi memberi tempat untuknya mengisap madu ?
Dan dengan kisah dr. John diatas, kita harusnya malu apabila masih bermalas-malasan dalam menuntut ilmu. Ingat, apapun bisa saja terjadi dalam kondisi darurat. Hanya saja, siapkah kita ? benarkah ilmu yang kita dapat selama 5 tahun itu cukup ? atau, sampai saat ini saja, apa semua tulisan, ucapan dan segala bentuk pengetahuan kedokteran itu masih tersimpan dengan rapi dalam benak kita ? sanggupkah kita menyembuhkan ‘mereka’ dengan tangan ini ? mungkin tidak ada salahnya kita membuka kembali lembaran-lembaran lama yang tersusun rapi di sudut kamar kita. Bayangkan jika kita menangani pasien dalam kasus ini, kasus itu. Dan jangan takut salah, karena salah adalah tanda mencoba, dan karena saat ini, adalah saat dimana kita salah adalah belajar. Bukan saat dimana salah adalah kematian. AJ

Kamis, 31 maret 2010, merupakan suatu hari bersejarah bagi sejumlah kecil pejuang ilmu FK UNPAD. Meski mendung dan awan kelabu memayungi di sekitaran gedung A 5.3 Fakultas kedokteran Universitas Padjadjaran, Jatinangor, tak sedikitpun menggubris dan mengikis semangat sekelompok mahasiswa. Dengan antusiasme tinggi dan kesabaran mumpuni, tak kurang 82 orang telah duduk dengan nyamannya pada bangku biru bertuliskan “Chitose”. Karena hari itu adalah hari dimana acara Breaking the Silence, Scome CIMSA UNPAD berlangsung. Acara yag mengangkat tema anamnesis (wawancara dokter pada pasien) pada saudara-saudara kita yang kekurangan, yaitu mereka yang tuna rungu/tuna wicara.
*****
15.15
Dengan semangat dan kekuatan hanya setingkat dibawah kuli pasar, penanggung jawab Logistik sibuk kian kemari mengangkat ini itu. Meski AR (nama disamarkan) memiliki sedikit kekurangan, yakni dalam hal penglihatan, dimana ‘mereka’ bilang sedari lahir AR tidak bisa membuka matanya (baca:sipit), entah kenapa, ia tetap saja bisa memindahkan barang-barang tanpa kesulitan mengetahui arah. Sebagian Mencurigai AR adalah siswa (mungkin) tertua dan teraneh yang telah mengikuti aktivasi Otak tengah yang sedang marak di tipi-tipi belakangan ini. Sementara, disampingnya anggotanya, DD, sang ‘Cum-Lauders’ bertangan anget-anget kuku dan sedikit dingin siaga membantu dengan memberikan instruksi-instruksi sakti mandraguna seperti, “eh bego, bukan kesitu, kesini !!”mata lo dimana sih ?” ,”oi, lelet banget sih, sini cepet !!”…. Begitu saktinya hingga tak seorang pun yang ingin berada didekatnya.

Dan saya, sedang melakukan tugas yang amat penting, hingga sedikit saja kelengahan dapat mempengaruhi keseimbangan alam semesta dan mampu membuat seisi dunia panik serta memicu perang nuklir serta perang lumpur dunia ke IV (perang lumpur dunia ke III sebelumnya dimenangkan oleh portugal, dengan CR 7 melakukan gocekan lumpur hingga ke gawang lawan, obama selaku keeper menyepak kaki CR 7 dan berkata, Yes, we Can, namun ternyata obama keluar garis dan didiskualifikasi hingga wasit memutuskan secara aklamasi bahwa portugal adalah pemenangnya), yaitu, ‘Nonton Suster Ngesot Beranak dalam Kubur’ dan menggambar raditya dika kayang sambil boker.


Sempat terbersit keinginan dalam otak saya selama 1/1000.000 detik, untuk membantu AR dan DD. Namun saya urungkan. Karena kata orang tua saya, mengambil kerjaan orang lain itu ga boleh. Dan akan lebih baik bila ahlinya yang mengerjakan. (karena itu, sebaiknya Nurdin segera turun dan mengganti pekerjaannya sebagai klining-serpis, karena kataya ia cekatan ‘membersihkan’ dan menyembunyikan hal-hal kotor #nurdinturun)

15.30
Kita semua dikumpulkan. Berbagai jenis orang dengan berbagai jenis kelamin, suku, bangsa, dan bahasa juga telah terlihat ramai mengelilingi meja registrasi. Sedangkan panitia, sedang sibuk rapat terakhir sambil bermain puk-ame-ame, dan terakhir, Berdo’a.

Segera seteah selesai berdo’a, tiba-tiba teman lama kita, mas alah, datang tak dijemput, dan tidak mau pulang. Adapun instruktur dan tuna rungu yang nantinya akan berlatih dan mengikuti acara Breaking the Solence ternyata terlambat hadir beberapa menit. Namun terlihat tidak begitu rumit, jadi kami abaikan.

Dan terdapat satu lagi masalah, ternyata saya adalah pembawa (tapi nantinya jadi perusak) acara yang akan dilaksanakan 1 menit 23 detik lagi.

DUARRRR. (bukan, bukan kentut)

Saya lupaa.. padahal pagi tadi telah saya ingat-ingat hingga saya menempelkan tulisan besar-besar di belakang pintu kamar mandi, bertuliskan, “hari ini kamu nge-MC, cemungudh, yach…” (belum, saya belum gila, hampir)

“Saya adalah MC (amateur and destroyer of Ceremony). Bukan, saya adalah MC (master of Ceremony)”, kata-kata ini saya ucapkan terus menerus dalam pikiran saya. Hingga akhirnya, saya memegang Mike dan mulai menyapa peserta.

“Assalamualaikum, selamat siang ceman-ceman” (teeet, sore harusnya, -1 poin)
“mungkin kalian kaget, kenapa sih orang ganteng dan baik hati serta rajin menabung seperti saya tiba-tiba berdiri dihadapan kalian semua” (tenang, kantung muntah telah disediakan di kursi masing-masing)
“kali ini, saya, Fajar Faisal Putra, akan menjadi pembawa (baca:penghancur) acara yang akan bertugas menemani kalian pada sore yang begitu indah ini, bersama orang yang juga indah, saya” (suara petir dan auman anjing gila bergema, kilat menyambar, dan angin-angin badai mengetuk-ngetuk jendela dengan kerasya)
“sebenernya, kalian tau ga sih, mau ngapain disini ?” penonton : anamnesa tuna rungu.
yak, bener. Kita akan menganamnesa tuna rungu dengan cara apa anak-anak ? penonton : bahasa isyaraaat, pak guru.

“Nah, sebenernya, bahasa isyarat itu apa sih ?” ayo kita tanyakan pada lelaki tampan dan terlihat pintar di depan ini,,
Tri (nama disamarkan), kira-kira bahasa isyarat itu apa sih ?
“bahasa isyarat itu, bahasa yang menggunakan isyarat, untuk orang yang mengerti bahasa isyarat” *gubrak (iya, orang ini adalah mahasiswa kedokteran, mungkin habis begadang dan lagi mabok waktu ngejawab pertanyaan saya)
(setelah berdiri dan mengambil mic yang jatuh)”trus, kapan sih bahasa isyarat in pertama kali ditemukan ?”
*hening*
krik…….krik……..krik……..jedeeer –> jangkriknya berhasil saya injek

Sebenernya, sejarah tentang bahasa isyarat itu sendiri menarik banget.
*****
Ribuan tahun yang lalu, Aristotolol (nama disamarkan), seorang filsuf Yunani, ahli matematika, hukum, metafisika dan metamorfosis, berpendapat, bahwa orang yang tuna runggu dan tuna wicara, tidak bisa dididik dan diajarkan.

karena sebuah perkataan maha-tolol dan tidak beralasan inilah, mereka, saudara-saudara kita penderita Tuna rungu dan tuna wicara menderita hingga bertahun-tahun lamanya. mereka ga boleh kawin, ga boleh punya barang prbadi, dan banyak hal lainnya. setiap hak-hak mereka dibelenggu da dibatasi. Mereka bahkan dianggap *maaf* “bukan-manusia”.

2000 tahun lamanya, dalam kegelapan dan gulita malam yang tak berkesudahan, tiba-tiba muncul secercah pelita, terbitlah Fajar yang menyingsing bernama, Geronimo Cardano, seorang dokter berkebangsaan Italia, yang untuk pertama kalinya dalam sejarah, membantah perkataan Aristoteles, bahwa mereka yang memiliki kekurangan, sebenernya dapat diajar dan dididik. Mereka sama dengan kita, mereka juga manusia. Cardano berkomunikasi dengan anaknya yang tuna rungu melalui tulisan dan bahasa-bahasa tubuh yang sederhana.
Bertahun-tahun kemudian, terbitlah Faja Fajar lain, yang memodifikasi dan memperbaiki bahasa isyarat itu. Namun, yang dapat mencicipi ilmu ini hanyalah mereka-mereka yang berdarah biru, bertulang abu-abu, dan suka makan labu. Hanya mereka yang berasal dari kaum bangsawanlah yang dapat mempelajarinya.

Namun, Fajar-Fajar lain yang lebih cerah muncul memperbaiki itu semua. Hingga jadilah bahasa isyarat yang seperti sekarang. *****

16.15
Cerita itu saya ceritakan memakan waktu hingga 15 menit. Namun, ternyata, si Mas Alah datang lagi. Entah kenapa harus saat ini, jam ini, menit ini, dan detik ini, tiba-tiba kemacetan besar terjadi di jalan arah sumedang hingga cileunyi. Sepertinya saya dikutuk. Dan, saya, sebagai MC, dipaksa harus mengulur-ulur waktu hingga beberapa saat.

Saya mengakalinya, dengan membuka acara secara formal-pembacaan tilawah yang hampir 1 juz-dan pemberian kata sambutan yang lamanya bukan main. Dan hingga akhirnya, tepat 3 menit 27 detik sebelum jam 5, 7 orang guru serta 7 orang siswa-siswa SLB Cimalaka, SLB Cileunyi, dan SLB Tanjung Sari hadir menyelamatkan imej saya yang sedikit itu.

Dan dimulailah acara dengan lecture dari seorang guru tentang bahasa isyarat, dan semua peserta tanpa diduga-duga antusias mengikuti lecture.

Namun, lalu tiba-tiba,, PRAAANKK

to be continued

Mungkin judul yang keliatan agak aneh, gimana mungkin ada pria yang lahir bareng-bareng sekaligus 400 orang. Bukan sulap, bukan sihir, ini nyata adanya. Pada tanggal 9 Januari kemarin, telah lahir pria-pria tangguh yang dengan berani mengungkapkan kejantanannya. 400 anak dari berbagai usia, berbagai daerah, berbagai wilayah, telah lahir di balairung Nagara Bhakti IPDN Jatinangor, Sumedang Jawa Barat. 400 orang itu, dengan keringat, darah dan cucuran air mata telah medeklarasikan kepada dunia, bahwa mereka adalah Pria. Menepis segala anggapan miring, dari seorang bocah berumur 1 tahun hingga laki-laki 20 tahun pun berpartisipasi dalam peristiwa ini. Peristiwa besar yang jadi tonggak sejarah kehidupan indah mereka, yang akan mereka ingat seumur hidupnya. Peristiwa krusial, yang bahkan dengan kesalahan sedikit saja dapat merubah masa depan mereka, yaitu : {jeng-jeng-jeng}

Khitanan Massal oleh Asyifaa Foundation bekerja sama dengan FK UNPAD dan IPDN.

Ya, saya tahu, pembukaan saya berlebihan, hingga menyita 119 kata dan 5 menit kalian untuk membacanya.

Acara yang benar-benar keren, dihadiri oleh Wali, Intan Nuraini, dan Sulis. Sangat megah dan juga dibarengi dengan door darah gratis [ kapan juga donor darah bayar, hehe ] dan Balai Pengobatan gratis dengan dokter-dokter ahli dan terpercaya. Nah, berhubung saya, mahasiswa baru FK UNPAD, saya juga ikut berpartisipasi sebagai panitia. Saya [dengan kebodohan melebihi tupai] tanpa sengaja “tertunjuk” jadi koordinator medis.

Duaaarrr

Seketika, dunia berhenti berputar, koruptor berhenti korupsi, obama berhenti ngupil, dan SBY berhenti makan seraya semuanya berkata bersamaan : APAAA !!

Seakan sangkakala yang telah berbunyi dengan keras ditelinga saya, saya mengalami cardiac infarction disertai Schizophrenia stadium 5 dan divonis idiot seumur hidup.

Lalu, sangkakala kedua berbunyi lagi, saya mulai hidup, celana saya juga hidup, dan saya mulai berfikir[jarang-jarang nih hehe] gimana caranya saya mengatur orang-orang ini. Praja, otot triceps mereka yang sebesar Aqua botol ukuran raksasa, tampang marinir, dan dengan isu-isu kekerasan yang melanda.

Namun, ketika pikiran-pikiran negatif [yang memang sudah membeli rumah di otak saya] itu terbersit, seketika ada suara halus selembut sutra dengan senyuman semanis delima [cailaah..] datang menyapa, ketika saya menoleh…
“Siang kang, saya Ghani, praja IPDN yang ditugaskan di divisi medis, apa yang bisa saya bantu kang ?”
[gubrak.. bukan cewe]
Harapan saya hancur, telinga saya begitu lama saya sewakan pada bakteri dan serangga, hingga tidak berfungsi semstinya. Tapi, meskipun begitu, saya begitu terkejut dengan apa yang saya dengar. Seorang pemuda, 185 cm, tegap, dengan otot-otot yang bencong mana yang takkan takluk, berkata dengan sopan dan lembutnya, menyingkirkan segala paradigma negatif tentang IPDN di benak saya dalam seketika. Dan lagi, saya dipanggil kang…
“Siang, ga usah manggil kang kok kang, saya baru masuk, ayo kita ngumpul dulu semuanya, teman-temannya mana kang ?”
“oh, oke, PRAJA !! MASUK !!”, dengan suara lantang hingga bakteri dan serangga di telinga saya terpaksa pindah dan berjanji takkan kembali lagi.

Seketika, masuklah 40 orang pria tegap dengan tinggi 165 hingga 180. Dan saya, Pingsan dan mati suri untuk kedua kaliya.

Mereka begitu patuh pada perintah, tidak ada satupun yang melanggar. Akhirnya, saya mulailah rapat medis ini, saya membagi mereka menjadi beberapa divisi,

1. Khitan’s man holder Division a.k.a pemegang peserta khitan

Terdiri dari 40 orang praja IPDN yang semuanya saya tempatkan disana, atas pertimbangan tenaga, fisik serta mental mereka yang terrasah dengan baik. Komadan : GHANI
Tugas : memegang kaki dan kepala peserta khitan, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan hingga merusak masa depan peserta khitan selamanya.

2. Blood Donor Division a.k.a divisi donor darah

Berisi anak-anak FK UNPAD yang cekatan dan suka ngemil. Komandan : Dhila
Tugas : mengukur tensi badan calon donor, information gathering, dan ngemil roti sobek pemberian PMI. Tugas terakhir merupakan yang paling susah karena harus cekatan dalam mencuri roti.

3. The Free Health Service Division a.k.a divis balai pengobatan gratis.

Berisi anak-anak FK UNPAD yang suka makan nasi kalo siang dan minum susu kalo malam. Komandan : Yuda
Tugas : memastikan semuanya sehat dengan mencuri jatah konsumsi panitia dan membagi-bagikannya kepada seluruh angota divisi masing-masing 5 kotak, dan membantu dalam pengobatan pasien yang datang dengan information gathering serta mengukur tensi.

Dengan berisikan anggota sakti dan mandraguna, sebenarnya hanya satu kekurangan yang ada, yaitu :

“WAKTU”

Dengan begitu banyak anggota, saya diberitahu dan dikumpulkan pada H-18 jam 23 menit 46 detik.

Duaaarrr

Dengan usaha sungguh-sungguh hingga H-5, dengan kondisi saya dan beberapa komandan hampir menggembel di lingkungan IPDN [untungnya kami batalkan niat kami] persiapan akhirnya beres, hingga yang tersisa adalah pelaksanaannya.

Sebenarnya, sungguh diluar dugaan. Praja dengan otot kawat tulang besi gigi baja dan celana dalem sutra, punya kebaikan dan keramahan selembut salju. Tanpa pandang warna kulit, mereka dapat bersikap objektif, dan bahkan rela dipimpin oleh saya yang notabene kurang pengalaman serta tak punya kemampuan selain menggambar doraemo jungkir balik. Mereka sigap, cepat, dan tangkas. Meski kehidupan mereka, 4 tahun pendidikan dihabiskan seluruhnya di lingkungan kampus seluas 240 hektar tanpa bercengkrama dengan dunia luar sedikitpun dengan peraturan ketat bahkan harus memakai baju praja lengkapnya setiap saat tanpa terkecuali, tapi mereka tetap semangat menjalankan tugas dan amanah yang telah diberikan tanpa kenal lelah. [Fakta 100%]

Saya sungguh terkejut sekaligus senang melihat antusiasme teman-teman praja. Dan tidak cukup sampai disana, mereka juga bahkan menjaga pandangan serta hawa nafsunya.***

Setelah tidur nyenyak selama 2 jam 39 menit 58 detik kami akhirnya pergi ke tempat acara, yaitu balairung nagara bhakti IPDN jatinangor, jam 6 pagi. Entah terkesima dengan bintang tamu yang dahyat, atau karena ketidaksabaran ingin dikhitan, ketika kami tiba di lokasi, telah ramai dipadati kelompok-kelompok anak-anak dari berbagai usia hingga berbagai daerah berkumpul dalam suatu barisan. Dan, yang lebih mengejutkan lagi, dikarenakan belum adanya panitia yang datang, karena kami menyepakati pertemuan jam 6 pagi, yang duduk menyambut serta mendata kelompok-kelompok anak ini adalah sang ketua pelaksana sendiri. Dan reaksi kami : melangkah pergi dan bersembunyi.

Jam 7.00 , artis telah datang, Khitan siap dilakukan, dengan teknis sebagai berikut :
a. peserta mendaftar ulang, masuk dan mengukur berat badan. Sebelumnya mendapatkan baju koko, sarung dan peci. Gratis. hehe.

b. mengganti baju, disana juga, tanpa tirai, tanpa kamar ganti. Saran : jika anda sudah terlalu dewasa dan belum disunat, jangan sekali-kali ikut khitanan massal.

c. menonton acara ceremonial dan menunggu panggilan “eksekusi”

d. dipanggil. Reaksi dominan : air mata, pingsan, kejang-kejang, kekerasan dan bahan tertawaan, khususnya bagi kami. haha

e. eksekusi. berlangsung singkat, ada 15 meja lengkap dengan peralatan dan dokter yang menunggu. estimasi waktu : tercepat–> 1 menit 59 detik.

d. Post-op. berakhir dengan tangisan, meski beberapa dengan senyuman. Khususnya dari orang tua yang rata-rata kurang mampu. Mungkin, mengkhitankan anaknya dengan seorang mantri saja sudah suatu kesulitan bagi mereka, tapi kini, oleh seorang dokter. Ahli. Tak terkira kiranya kegembiran orang tuamu wahai bocah, karena kini, beban mereka telah berkurang. Mungki tidak bisa membantu menghilangkan seluruh beban mereka, tapi setidaknya, kini mereka punya alasan untuk lega. Untuk tersenyum, dan untuk berbangga.

Sungguh senang melihat senyuman tulus itu, tanpa paksaan, tanpa kepura-puraan. Senyuman, dari kesederhanaan.
*****

Khitanan berjalan lancar, balai pengobatan cukup terisi meski jauh dari target, dan donor darah bahkan luar biasa, mereka kehabisan labu untuk diisi.

Memang banyak kekurangan pada acara ini. Persiapan kurang matang, jadwa acara yang diubah 80% secara spontan, dan urangnya kordinasi inter maupun intra seksi, namun kami telah berhasil melaksanakan suatu acara. Kami telah berhasil membuat bocah-bocah itu menjadi pria. Dan mungkin, dengan adanya acara ini, siapa tahu bocah-bocah itu terksima dengan kegagahan dan kecakapan kami, dan siapa tahu suatu saat mereka akan mengikuti jejak kami, di FK UNPAD atau pun di IPDN. Dan juga, sebenarnyya ini adalah acara pertama yang dapat menyatukan IPDN dengan FK UNPAD itu sendiri. Meski hanya berjarak 500 meter, tapi kami tidak pernah berhubungan sebelumnya. Namun kini, ami mendapatkan rekan-rekan baru, sahabat-sahabat baru yang sigap, amanah, dan bahkan dapat dipercaya.