Boven Digoel adalah suatu kawasan di Papua. Sempat terkenal sebagai ‘neraka dunia’ sejak pemerintahan Hindia Belanda ketika pengasingan sedang menjadi tren yang berkembang saat itu. Boven Digoel bahkan mampu membungkam aktivis-aktivis ‘nakal’ sekaliber Marco Kartodikromo.
Tak seperti Gulag, di Uni Soviet. Yang bermandikan sinar-sinar terang lampu sorot di malam hari, tembok-tembok tebal tinggi menjulang, atau sipir-sipir yang berkeliaran siang malam dengan senapan siap tembak, yang mungkin, tak pernah belajar tentang humaniora dan etika. Di Boven Digoel ada rumah ibadat, warung-warung, ‘rumah sakit’, bahkan bioskop. Adapun, gunung, bukit, lembah, rimba, dan paya-paya kaya nyamuk serta kehampaan dan kebosananlah yang cukup menebarkan horor dan menjadi momok di Boven Digoel. Setiap orang berusaha tetap pada standar kewarasan agar tak jatuh jadi jadi gila.
Dan salah satu dari mereka yang lolos dari kegilaan ini adalah dr. John Manangsang. Tidak cukup sampai disitu, dengan kedua tangannya, ia bahkan mampu menyelamatkan dan menginspirasi mereka yang masih tetap setia dalam lingkaran bernama kemanusiaan.
Mungkin, kita pernah mendengar Boven Digoel sebelumnya, juga telah didatangi figur ternama seperti dr. Tjipto Mangunkusumo. Namun, kondisi saat itu dan dan saat ini berbeda. Indonesia yang sekarang sedang mencapai puncak perekonomian yang bahkan aparatus Orde Baru dengan lantang menyebutnya “Tahun-tahun Keemasan Indonesia.” Benarkah begitu ?
Dr John aDalah sesosok pribadi ‘lugu’ lulusan Fakultas Kedokteran tertua di Indonesia, yaitu Universitas Indonesia, merupakan seorang pembelajar yang kerap berusaha diatas rata-rata dibanding rekan-rekannya yang lain. Dengan ketekunan tingkat dewa, ia semestinya bisa mendapagt tempat praktek yang layak, dan memang, RS Tjipto Mangunkusumo telah menerimanya. Namun, ia memilih untuk kembali ke Boven Digoel, ‘neraka dunia’ dimana dr. Tjipto pernah diasingkan karena keterlibatannya dalam pergerakan Indonesia.
Dengan keluguannya, ia berkeyakinan, “dokter adalah mereka yang disumpah dan bersumpah untuk membaktikan hidup
mereka untuk kepentingan kemanusiaan, menjalankan tugas dengan cara terhormat, bersusila sesuai martabat dan pekerjaan mereka, dan setelah itu dokter melanglang buana menuju pelosok bumi pertiwi ini hingga pada tempat yang tak pernah terbayang oleh manusia sekalipun.
Kesedehanaan, kemuliaan, kehangatan, kesetiaan serta keberanian dr. John mengambil tindakan-tindakan medis selama 15 di Boven Digoel menjadi teror bagi siapapun yang memihak kemanusiaan.
Dalam keterbatasan, dan isolasi yang cukup tangguh, sayangnya penyakit, kelainan dan kecelakaan tetap saja terjadi di Boven Digoel. Adalah sosok dr. Johnlah yang mempertanggungjawabkan semua itu. Dalam suatu ketika, adakalanya ia berani ambil resiko tak lazim ketika membedah pasien. Membedah perut seorang wanita untuk operasi caesar misalnya.
Saat itu, memang peralatan di puskesmas sedang minim. Kasa steril tidak punya dan harus minta pada bagian kesusteran. Sterilisator memang sudah dibawa ke perumtel untuk di panaskan, namun listrik perumtel tidak memadai, hingga akhirnya sterilisator direbus dalam kukusan di belakang puskesmas. Ketika operasi akan dilakukan, tiba-tiba seorang suster berteriak, “pisau operasi habis dan tak satupun yang tersisa untuk operasi ini.”
Karena tidak boleh menunda hanya karena pisau, spontan dr. John merogoh sakunya dan mengeluarkan uang seratus
rupiah, “tolong belikan silet Tiger.”
Dalam suatu operasi yang lain, pada operasi atresia ani tau lahir tanpa anus, ia dihadapkan pada kondisi fasilitas yang minimum. Berbekal secuil informasi dari rekan-rekannya di kota, ia menolak untuk merujuk karena keterbatasan ekonomi pasien dan nekat melakukan sebuah operasi buta. Bermodal sepotong patahan silet yang berbentuk segitiga yang dijepit pada ujung klem, sebuah pencongkel gigi, sebuah trokar besi tajam penembus otot, sebatang sonde pengukur dalamnya dan posisi kandungan, sebuah spekulum hidung, sebuah tabung spuit besi penyemprot gliserin ke dalam lubang anus, dan sebuah gunting.
Pada kesempatan operasi yang lain, pahat yang biasa dikenal dalam dunia pertukangan pun hadir sebagai “tamu kehormatan” di ruangan operasi dr. John. Pahat dan palu digunakan untuk pasiennya yang mengalami artodoisis atau kekakuan sendi. Alat ini dipakai untuk memahat sendi lutut pasien. Ide itu muncul setelah operasi berjalan dan dr. John mulai putus asa. Awalnya obeng, pahat, dan martil itu direbus lalu disirami alkohol 70% setelah itu ujungnya dibakar.
Lantas, muncul suatu tanda tanya dalam benak kita. Bukankah tindakan dr. John itu melanggar etika kedokteran ? bisa dijerat pasal malpraktik ?
“Bisa saja. Tergantung siapa yang menilai dan dari sudut pandang apa. tetapi situasional ditimbang-timbang antara hidup atau mati atau malpraktik.”
Nikodemus Tekma, mantri Puskesmas Tanah Merah, mengamini tindakan dr. John, “Saya ikut dalam operasi waktu ada polisi kena tembak sampai sumsum tulangnya terlepas jauh. Dokter John bisa merampungkan operasi dan menjahit dengan alat benang jahitan pun jadi.”
Kondisi Boven Digoel yang terpencil telah membagkitkan keberanianya untuk melakukan tindakan-tindakan medis yang terbilang nekat. Tentu saja segala tindakan itu dilakukan atas nama upaya pengobatan dan penyelamatan jiwa pasien.
Lantas, apakah tidak takut kalau-kalau pasiennya meninggal ?
Dengan tenang sosok lugu itu menjawab, “Sebelum melakukan operasi, saya jelaskan kepada pasien dan keluarganya. Semua resiko saat pembiusan, saat operasi, sampai kemungkinan efek samping setelah operasi. Setelah setuju, barulah saya melakukan operasi. Umumnya dalam keadaan darurat yang saya tawarkan hanya hidup atau mati. Sudah itu.”
Kiprah pengabdian dr. John merupakan pengabdian profesi yang terjepit oleh kelalaian negara dalam melayani kebutuhan medis di daerah terpencil. Apa yag dilakukan dr. John adalah improvisasi. Bandingkan dengan rumah sakit modern yang mentereng dimana setiap pasien yang dioperasi dimonitor detak jantungnya. Namun, mana mungkin itu bisa dilakukan di puskesmas terpencil yang untuk pengadaan stetoskop saja masih kesusahan.
“Kami dididik melakukan operasi dengan tim dokter. Namun, di pedalaman terpencil sana Cuma saya dokternya. Pada kasus yang dibius umum, tetap saya harus kontrol fungsi jantung dan paru-parunya. Saya suruh mantri mengenakan stetoskop ke dada pasien. Mantri itu menirukan bunyi detak jantung pasien saat saya sedang operasi, apakah detak jantung pasien bertabah cepat atau melambat. Dengan memantau suara mantri, saya jadi tahu kondisi pasien memerlukan apa.
Memang, kita mungkin tidak bisa sepenuhnya menyalahkan negara. Oleh karena itu, setiap calon dokter tidak boleh terbiasa bermanja-manja. Ia harus bisa bertindak dalam setiap situasi dan keadaan yang ada. Terus-menerus belajar tanpa henti serta terus-menerus berlatih adalah cara kita untuk berpartisipasi dan menjawab kepercayaan setiap pasien yang datang. Bersungguh-sungguh, rela, dan ikhlas harus selalu kita tanamkan.
Dr. John hanyalah satu dari sekian banyak contoh “the real doctor” yang ada. Dan tidak usah mencari contoh jauh-jauh. Apakah semua dari kita mengetahui, bahwa ternyata di kawasan Jatinangor saja, yang terdapat salah satu Fakultas Kedokteran paling ternama di Indonesia, masih terdapat desa yang bahkan tidak dijangkau dokter ? ibarat seekor lebah yang kesulitan mencari madu di sekitar kebun bunga. Mungkin saja lebah ini bingung, kenapa bunga itu tak lagi semulia dulu. Kenapa bunga itu tak lagi memberi tempat untuknya mengisap madu ?
Dan dengan kisah dr. John diatas, kita harusnya malu apabila masih bermalas-malasan dalam menuntut ilmu. Ingat, apapun bisa saja terjadi dalam kondisi darurat. Hanya saja, siapkah kita ? benarkah ilmu yang kita dapat selama 5 tahun itu cukup ? atau, sampai saat ini saja, apa semua tulisan, ucapan dan segala bentuk pengetahuan kedokteran itu masih tersimpan dengan rapi dalam benak kita ? sanggupkah kita menyembuhkan ‘mereka’ dengan tangan ini ? mungkin tidak ada salahnya kita membuka kembali lembaran-lembaran lama yang tersusun rapi di sudut kamar kita. Bayangkan jika kita menangani pasien dalam kasus ini, kasus itu. Dan jangan takut salah, karena salah adalah tanda mencoba, dan karena saat ini, adalah saat dimana kita salah adalah belajar. Bukan saat dimana salah adalah kematian. AJ
Advertisement
Comments





hehe, kali dalam bahasa yang sedikit serius,
tulisan ini pernah saya kelurkan pada koran kampus, di fk Unpad, tahun 2011,
(pamer)
hehe,